Komunitas Wartawan Aceh di Jakarta Berharap Ada Pertemuan Berkala

Dalam upaya menjalin komunikasi dengan berbagai komunitas masyarakat Aceh di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Almuniza Kamal mengadakan pertemuan dengan komunitas wartawan Aceh, Sabtu (6/10) malam di The Atjeh Connection Resto and Coffee, Jakarta.

Pertemuan dimaksudkan sebagai forum perkenalan Almuniza Kamal, yang baru bertugas sebagai Kepala BPPA sejak dilantik 17 September 2018 lalu, dengan komunitas wartawan Aceh. Almuniza Kamal yang biasa dipanggil Pak Al juga ingin menjalin hubungan dengan semua komunitas Aceh lainnya yang ada di kawasan Jabodetabek.

Dalam kesempatan tersebut beberapa wartawan mengemukakan pandangannya tentang Aceh pada umumnya dan BPPA pada khususnya. Nezar Patria dari The Jakarta Post berpendapat, bahwa Syariat Islam masih dilihat sebagai beban, belum dilihat sebagai potensi yang bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah Aceh. Padahal menurutnya, penerapan syariat Islam di Aceh setidaknya mempunyai dua potensi untuk dikembangkan.

“Pertama, Pemerintah Aceh mestinya bisa mengembangkan halal tourisme. Tapi yang melakukan terlebih dahulu malah NTB,” jelasnya.

Sedangkan potensi kedua menurut Nezar, penerapan syariat Islam mestinya bisa menjadikan Aceh memiliki keunikan tersendiri dibandingkan daerah lain.

“Bali dengan agama Hindunya bisa menjadi daerah unik yang menarik wisatawan untuk mengunjunginya. Mestinya Aceh juga bisa menjadikan penerapan syariat Islam sebagai keunikan daerah yang membuat wisatawan tertarik berkunjung,” ungkap Nezar.

Sementara penyair yang juga wartawan Serambi Indonesia Fikar W. Eda berharap Anjungan Aceh Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) bisa menjadi sentral budaya dan promosi Aceh.

“Karena pengelolaan Anjungan Aceh bagian dari tugas BPPA, kita berharap bisa mengembangkannya menjadi sentral kegiatan seni budaya Aceh dan promosi potensi daerah Aceh lainnya,” ucapnya.

Selain itu Fikar juga berharap BPPA bisa menjadi sentral informasi tentang Aceh, karena menurutnya sudah semakin banyak masyarakat Aceh yang tinggal di kawasan Jabodetabek.

“Di Depok saja, warung kopi Aceh sudah mencapai 500an,” lanjut Fikar.

Murizal Hamzah dari klikkabar.com menyoroti peran BPPA dalam perspektif sosial. Di saat ada daerah yang terkena bencana alam, lalu ada orang Aceh yang menjadi korbannya, dia mempertanyakan langkah apa saja yang bisa dilakukan BPPA.

“Ada orang Aceh yang meninggal dan keluarga menginginkan jenazahnya dibawa pulang, mungkinkah BPPA membantu pemulangannya?” tanya Murizal Hamzah yang akrab dipanggil dengan singkatan namanya Emha.

Demikian juga bila ada anak-anak Aceh menjadi korban bencana di daerah lain. Misalnya kedua orang tuanya meninggal atau hilang.

“Perlu disediakan rumah singgah di Jakarta sambil diproses pemulangan atau kalau ada kerabat yang mencari dan mau mengasuhnya,” usulnya.

Kepala BPPA Almuniza Kamal menampung masukan-masukan tersebut untuk menjadi bahan pertimbangan dalam meningkatkan kinerja instansi yang dipimpinnya.

Dalam pertemuan tersebut, hadir 20 orang wartawan media cetak maupun elektronik. Umumnya mereka berharap forum tersebut bisa dilaksanakan secara berkala, sehingga bisa membantu menginformasikan perkembangan Aceh melalui media masing-masing.

Turut hadir juga Azhari Cage dari Komisi I DPRA yang merupakan mitra BPPA. Dengan kehadiran pihak legislatif, Pak Al berharap bisa ikut mendengar langsung harapan masyarakat Aceh terhadap peran BPPA sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Sehingga nantinya bisa membantu kelancaran dalam pembahasan rencana kegiatan dan penganggaran BPPA di DPRA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial