Pergelaran Musik dan Lagu Etnis di Anjungan Aceh TMII

Beudoh hai dek dayung sampan

Ta jeumerang jemerang dua dua

Pepuleh hatee NGOn luka

Mano agam Ngon dara

Bak uro Rabu abeh

Bak akhee buleun Safaa

Begitulah sepenggal lagu yang dinyanyikan biduan Aldi dari Fadlan NGR BAND (NGON RAKAN) pada acara pergelaran musik dan lagu di Anjungan Aceh Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) Jakarta (6/5) pagi sampai sore. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna:

Dek ayo bangun dek kita pergi untuk mendayung sampan

Sambil kita menyeberang bersama dua dua 

Pulihkan hati duka dan lara

Mandi /mensucikan diri pria dan wanita

Pada hari Rabu terakhir

Di penghujung bulan Safar

Baris kedua syair tersebut “Sambil menyeberang bersama dua dua” karena yang digunakan untuk menyeberang adalah sampan yang hanya mampu memuat dua orang penumpang saja. Syair ini menceritakan tentang sebuah kegiatan ritual budaya masyarakat Aceh di pesisir pantai barat selatan pada bulan Safar yang dikenal dengan istilah Rabu Habeh, yang artinya Rabu terakhir di bulan Safar. Dahulu momentum ini digunakan untuk pembersihan diri atau tolak bala dengan simbolisasi mandi bersama mensucikan diri, jiwa dan raga dengan mandi mandi di sungai, laut dan lokasi yang disepakati oleh pimpinan adat.

Acara pergelaran musik dan lagu ini adalah sebuah kegiatan pentas untuk menampilkan semua potensi musik dan lagu-lagu Aceh, baik dari jenis musik pop, dangdut, jazz ataupun musik kreatif daerah dari berbagai etnis di Provinsi Aceh..

Bertempat di panggung Anjungan Aceh TMII Jakarta, Fadlan NGR band memulai acara pada pukul 10.00 WIB dengan lagu pembuka “Aceh Lon Sayang”. Dilanjutkan dengan lagu-lagu Aceh lainnya yang selama ini sudah menyatu di telinga masyarakat pencinta lagu Aceh di kawasan Jabodetabek, seperti lagu-lagu dari Rafli, Liza Aulia serta musik dan lagu dari musisi Nusantara lainnya.

Pergelaran musik dan lagu yang ditampilkan, selain musik dan lagu berbahasa Aceh, juga menampilkan semua lagu yang pernah diikutkan dalam Festival Lagu Daerah Aceh dari berbagai etnis. Festival tersebut sudah beberapa kali dilaksanakan oleh Sub Bidang Promosi dan Pameran dari Badan Penghubung Pemerintah Aceh. Lagu-lagu yang didendangkan beragam bahasanya, ada yang berbahasa Melayu Aceh Tamiang, Gayo, Simeulue, Gayo Lues, bahkan ada juga lagu yang berbahasa Jamee (Aceh Selatan).

Kasubbid Promosi dan Pameran Badan Penghubung Pemerintah Aceh yang sekaligus merupakan Pelaksana Harian Kepala Anjungan Aceh TMII, Ir. Cut Putri Alyanur dalam kesempatan tersebut juga menjelaskan rencana pelaksanaan Festival Lagu Aceh yang akan dilaksanakan pada bulan September 2018 nanti.

“Pada bulan September 2018 nanti, Anjungan Aceh akan menyelenggarakan Festival Lagu Daerah Aceh berbahasa Alas (Aceh Tenggara). Untuk itu mohon partisipasi semua masyarakat Alas agar mendukung, memeriahkan dan menyukseskan acara tersebut, Sehingga dari Anjungan Aceh TMII semua potensi lagu daerah Aceh bisa kita tumbuh-kembangkan dalam rangka menjaga dan mengisi seni budaya daerah Aceh yang heterogen,” jelas Cut Putri.

Acara pergelaran musik dan lagu etnis Aceh diakhiri tepat pukul 15.00 WIB dengan memperdengarkan lagu “Bungong Jeumpa” yang harum, seharum wangi bunganya yang ditanam di kawasan Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial