• Gubernur Nova Siap Terima Peluang Investasi Perusahaan asal Abu Dhabi
  • Pemerintah Aceh Sambut Nelayan Asal Sabang yang Kecelakaan Pelayaran di Thailand
  • Setelah Tertunda, Jenazah Mahasiswi Asal Nagan Raya Sampai Di Jakarta
  • BPPA Pulangkan Jenazah Pemuda asal Lhokseumawe yang Meninggal di Jakarta
  • Meninggal di Kairo, BPPA Pulangkan Mahasiswi Aceh Asal Nagan Raya

Kolaborasi Budaya Aceh Sumedang, Cahaya dari Negeri Aceh Pererat Persaudaraan

Ketua TP PKK Aceh, Dyah Erti Idawati saat memberikan kata sambutan pada acara penutupan Peringatan 113 Tahun Pahlawan Nasional asal Aceh, Cut Nyak Dien di Gedung Negara Sumedang, Sabtu, 20 November 2021 malam. (Foto: Humas BPPA)

PRESS RELEASE




SUMEDANG - Persaudaraan masyarakat Aceh dengan Sumedang sudah mulai terjalin sejak keberadaan Cut Nyak Dien di Sumedang, Jawa Barat. Saat itu Cut Nyak Dien diasingkan oleh Belanda karena kegigihannya mengusir penjajahan.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Kelurahan (PKK), Dr. Ir Dyah Erti Idawati MT, pada acara gala dinner sekaligus penutupan peringatan Wafatnya Cut Nyak Dien di Gedung Negara Sumedang, Jawa Barat, Sabtu, 20 November 2021 malam.

"Mudah-mudahan persaudaraan ini semakin erat," ujar Dyah.

Dengan begitu, tambah Dyah, hubungan antara Aceh dengan Sumedang tak akan terputus, apalagi disandingkan dengan pertukaran kebudayaan, kuliner, ekonomi dan lainnya.

Dalam acara itu, Dyah juga memperkenalkan berbagai lokasi wisata di Aceh dan berharap agar pemerintah Kabupaten Sumedang pada suatu ketika dapat pula berkunjung ke Aceh.

"Sehingga dengan saling mengunjungi dapat menaikkan perekonomian di daerah masing-masing," jelas Dyah.

Bupati Sumedang, Dr. H. Dony Ahmad Munir ST. M.M, juga menyampaikan syukur, karena kehadiran Isteri Gubernur Aceh dan masyarakat Aceh di Sumedang, dalam rangka memperingati wafatnya Cut Nyak Dhien.

"Mengambil spirit perjuangan beliau untuk terus dijalankan. Mudah-mudahan bisa melekat hubungan antara masyarakat Aceh dengan Sumedang," sebutnya.

Hal itu katanya, dikarenakan ikatan tersebut sudah terjadi sangat lama. Diibaratkan saudara kandung dengan ibundanya Cut Nyak Dien.

"Cut Nyak Dhien datang ke Sumedang merupakan keberkahan dan masyarakat kami saat itu menyambutnya dengan baik, sehingga menyebutnya ibu ratu. Beliau bangsawan dari Aceh datang ke Sumedang memberikan pelajaran agama bagi masyarakat Sumedang saat itu," katanya.

Sehingga tambahnya, saat Cut Nyak Dhien wafat maka pemerintah kala itu mensejajarkan Cut Nyak Dien sebagai bagian dari kerajaan sehingga tempat peristirahatan terakhir Cut Nyak Dien di dalam kompleks makam raja-raja Sumedang, itu pula sebagai bentuk penghargaan kepada beliau yang sudah berjihad membela negara Indonesia untuk meraih kemerdekaan.

"Mudah-mudahan menjadi inspirasi generasi kita semuanya, khususnya untuk ibu-ibu untuk memberikan yang terbaik dan memajukan Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Raja Paduka Yang Mulia Sri Radya HRI Lukman Soemadisoeria, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Aceh karena sudah memperingati wafatnya Cut Nyak Dien di makamnya.

Hadir dalam kegiatan itu, Kepala Dinas Sosial Sumedang, H. Dikdik Sadikin A.KS, M.Si, Kadisparbudpora, Bangbang Rianto, S,STP, M.Si, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumedang, Hj. Tuti Ruswati.S.Sos.M.Si, dan Raja Karaton Sumedang Larang Paduka Yang Mulia H.R.I Lukman.

Sementara dari Pemerintah Aceh, hadir Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Almuniza Kamal, SSTP, M.Si, Ketua Umum Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda Dr. Ir. Surya Darma , MBA dan istri, Kepala Sinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, diwakili Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya, Evi Mayasari, A.KS, M.Si), dan Ketua Kamas Sumedang, Yusuf.