• Pemerintah Aceh Sambut Nelayan Asal Sabang yang Kecelakaan Pelayaran di Thailand
  • Setelah Tertunda, Jenazah Mahasiswi Asal Nagan Raya Sampai Di Jakarta
  • BPPA Pulangkan Jenazah Pemuda asal Lhokseumawe yang Meninggal di Jakarta
  • Meninggal di Kairo, BPPA Pulangkan Mahasiswi Aceh Asal Nagan Raya
  • Diduga Korban Human Trafficking, Pemerintah Aceh Pulangkan Tujuh Warganya

Gagal Jadi Security di Jakarta, BPPA Bantu Pulangkan Pemuda asal Aceh Utara 

Kamil Fahmi foto bersama staf BPPA sebelum diberangkatkan ke Aceh di kantor BPPA Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Agustus 2022.

PRESS RILIS 

 

JAKARTA - Seorang pemuda asal Aceh Utara, Kamil Fahmi (22) harus merelakan keinginannya untuk menjadi Security di salah satu pusat pasar di Jakarta, akibat tidak memiliki uang sebagai "persyaratan" kelulusan. 

Warga Punti, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara yang sudah berada di Ibukota sejak lima bulan lalu, itupun kini memilih pulang ke kampung halamannya, karena selama diperantauan tidak memiliki pekerjaan untuk biaya hidup.

Dalam hal ini, Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) membantu memfasilitasi pemulangannya ke Aceh. Karena keterbatasan biaya.

"Kita siap memfasilitasi pemulangannya. Karena amanah dari bapak Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki supaya mengurus warga kurang mampu," kata Kepala BPPA) Akkar Arafat S.STP, M.Si, Rabu, 10Agustus 2022.

Pemulangan warga Aceh kurang mampu seperti dilakukan sebelumnya, Kamil juga akan diberangkatkan dengan menggunakan transportasi darat bus Putra Pelangi.

"Ia dipulangkan hari ini, Rabu, 10 Agustus 2022, melalui Terminal bus Pulo Gebang, Jakarta Timur," sebutnya.

Sementara itu, Kamil Fahmi, warga Aceh Utara itu mengatakan, pergi ke Jakarta lima bulan yang lalu ingin mendaftar menjadi security, setelah mendapat tawaran dari kawannya yang berprofesi sebagai satuan pengamanan (satpam) tersebut.

"Saya disuruh ke Jakarta untuk jadi Security. Katanya datang saja dengan membawa berkas yang lengkap. Tapi saat diwawancara saya diminta uang sekitar Rp1,5 juta supaya bisa diterima," kisahnya.

Kamil menambahkan, permintaan biaya sebagai "syarat" kelulusan itu tidak bisa dipenuhinya. Selain uangnya sangat terbatas, karena sejak mendapatkan penawaran menjadi satpam di sebuah pusat pasar di Jakarta tidak diminta biaya sepeserpun.

"Saya heran dan kaget juga saat dalam wawancara diminta uang untuk kelulusan," sebutnya.

Ia sendiri selama berada di Ibukota hanya bisa berpasrah pada keadaan dengan memilih mencari pekerjaan lain asalkan bisa bertahan hidup, apapun dikerjakannya.

"Apalagi saya tinggal di kontrakan saudara dari kawan di daerah Depok. Saya juga harus membayar uang bulanan, karena tidak enak juga kita tinggal di tempat orang, kalau ada uang saya kasih," katanya.

Dengan kondisi seperti ini, Kamil pun memilih untuk pulang ke kampung halamannya. Dan mendatangi Badan Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta untuk meminta bantuan.

"Saya lebih pulang ke kampung. Karena kalau di Aceh pasti yang bisa kita kerjakan, selain itu juga dekat dengan orang tua," ujarnya.

Dengan pemulangan ini, ia berterima kasih kepada Pemerintah Aceh, khususnya Badan Penghubung, karena sudah membantu memfasilitasi pemulangannya ke Aceh.