• Gubernur Nova Siap Terima Peluang Investasi Perusahaan asal Abu Dhabi
  • Pemerintah Aceh Sambut Nelayan Asal Sabang yang Kecelakaan Pelayaran di Thailand
  • Setelah Tertunda, Jenazah Mahasiswi Asal Nagan Raya Sampai Di Jakarta
  • BPPA Pulangkan Jenazah Pemuda asal Lhokseumawe yang Meninggal di Jakarta
  • Meninggal di Kairo, BPPA Pulangkan Mahasiswi Aceh Asal Nagan Raya

Al-Qur’an Kitab Peradaban

Ustad Munawir Umar, S.Ag, MA

Jakarta - Napoleon, seorang orientalis berkebangsaan Perancis mengatakan "The principle of Quran with alone of tracking can lead man to happiness", Al-Qur’an adalah prinsip dan merupakan satu-satunya kitab suci yang dapat menghantarkan kepada kepulauan nan bahagia.

"Ungkapan tersebut hadirin, mengisyaratkan kepada kita bahwa AlQur’an laksana lampu penerang hati dalam menembus liku-liku perjuangan yang panjang membentang," kata Ustad Munawir Umar, S.Ag, MA dalam khutbahnya di Mess Aceh Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Januari 2022.

Ia menyebutkan, AlQur’an adalah laksana benteng yang kokoh dalam mengcaunter tipuan dan godaan syetan. Al-Qur’an laksana jimat penyelamat dari kesesatan hidup dan kehidupan.

"Pendek kata Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang berisi petunjuk dan kebahagiaan serta senantiasa relevan dengan perkembangan dan situasi zaman," kata khatib yang juga Dosen Institut Agama Islam Al-Ghuraba Jakarta itu.

Oleh karena itu katanya, Rasul mengatakan: “Dari Zaid, bahwasanya ia telah mendengar abi Salam berkata ; Disampaikan kepadaku oleh Abu Umamah al-Bahily bahwa ia telah berkata; Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi yang membacanya.” (HR. Al-Baihaqy).


Dalam rangka menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia, maka pada kesempatan jum’at yang berbahagia ini kita akan membahas permasalahan di atas, dengan rujukan firman Allah subhanahu wa ta’ala, Al-Qur’an surat Yunus ayat 57, yang
artinya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus:57).

"Ayat tadi dalam ilmu balaghah termasuk (kalaam khabary au inkaary) yang menginformasikan sekaligus menegaskan, bahwa sungguh telah datang kepada manusia Al-Qur’an yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan mengeluarkan manusia dari kegelapan," katanya.

Lalu tambahnya, apakah fungsi dan peran Al-Qur’an itu dalam merancang bangun peradaban manusia? Ayat tadi sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir, menjelaskan ada empat
fungsi diturunkannya Al-Qur’an, yaitu yang pertama (mau’izhatun min rabbikum ay mau’izhatun min khaaliqikum). Al-Qur’an sebagai pelajaran dari Tuhan yang Maha pengajar.

Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Al-Ghazali dalam “Jawahir Al-Qur’an” mengatakan, seluruh cabang ilmu pengetahuan baik yang
datang terdahulu maupun kemudian, baik yang telah diketahui maupun belum, semuanya bersumber dari Al-Qur’an al-Karim.

"Sebagai bukti, bukankah karena Al-Qur’an
diturunkan dengan menggunakan bahasa arab telah mendorong lahirnya ilmu tata bahasa yang kemudian kita kenal dengan ilmu nahwu dan sharaf," sebutnya.

Bukankah katanya, karena Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa yang indah, retoris dan puitis serta argumentatis telah
mendorong lahirnya ilmu retorika dan sastra yang kemudian kita kenal dengan ilmu balaghah dan mantiq.

"Bukankah karena kita diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar telah mendorong lahirnya ilmu qira’at yang kemudian kita kenal dengan ilmu tajwid. Dengan demikian, seluruh ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersumber dari Al-Qur’an," jelas khatib.

Selanjutnya yang kedua katanya, (Syifaa’un limaa fii al-shuduur ay yasyfii maa fiihaa min al-syarki wa al-syakki wa al-juhli). Al-Qur’an
sebagai obat penyakit batin seperti penyakit syirik, ragu dan bodoh.

"Kenapa Al-Qur’an berfungsi secara maksimal
sebagai obat penyakit batin bukan penyakit zhahir? Jawabannya hadirin, karena penyakit zhahir memang berbahaya jika tidak diobati, tapi jauh lebih berbahaya jika kita memiliki penyakit hati namun tidak diobati," katanya.

Dengan demikian, penyakit asma, jantung, tumor memang berbahaya dan dapat merusak tubuh manusia. Tapi penyakit sombong, iri hati, dengki, frustasi, korupsi, haus kursi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
jabatan dan popularitas diri jauh lebih berbahaya dan dapat merusak tatanan hidup masyarakat dan bangsa.

"Oleh karena itu, Al-Qur’an turun dengan
memberikan perintah dan larangan, janji dan ancaman, dan memerintah kepada manusia untuk mentaatinya dan mengamalkan seluruh isinya. Dengan mengamalkan Al-Qur’an Insya Allah segala penyakit hati akan terkikis
habis dari diri kita," katanya.

Pantas kalau Abu Farida Muhammad
dalam bukunya “Aliz Nafsaka bil Qur’an” mengatakan “Al-Qur’an adalah obat yang sempurna bagi segala penyakit baik penyakit zhahir maupun bathin“.

Lalu yang ketiga katanya, (Hudan ay Hidaayatan min al-Dhalaal). Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan. Berkaitan dengan hal tersebut, Prof. Dr. M. Quraish Syihab dalam “Wawasan Al-Qur’an” mengatakan seluruh ayat yang ada dalam Al-Qur’an seluruhnya berisi ajaran yang relevan
dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

"Mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan manusia baik yang bersifat ibadah ritual maupun sosial termasuk di dalamnya tentang etika kenegaraan. Oleh
karena itu, kalau manusia sudah mampu memahami isi Al-Qur’an, menjadikan petunjuk kehidupan, serta mengamalkannya dalam hidup keseharian maka prilakunya dipastikan tidak bertentangan dengan ajaran Tuhan dan berselisih dengan tuntutan agama, siapaun dia dan apapun profesinya," katanya.

Berikutnya yang keempat katanya,
(rahmatun li al-mu’miniin ay rahmatun li ahli al-iimaan). Al-Qur’an berfungsi sebagai rahmat bagi insan nan beriman. Artinya kalau Al-Qur’an sudah dibaca isinya, dipahami ajarannya serta diamalkan petunjuknya maka ia
akan menciptakan ketenangan bagi yang membacanya, jauh dari rasa resah dan gelisah, siap menghadapi berbagai problematika hidup dan kehidupan serta mampu menghantarkan kita kepada kebahagiaan baik dunia maupun di akhirat.

Di dalam hadits disebutkan, “Disampaikan kepada kami oleh Abu Khalid al-Ahmar dari ‘Amr bin Qaisy dari Zaid berkata; Abdullah berkata ; Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at dan pembenar (terhadap pembacanya), maka barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imamnya, maka ia akan membawanya kepada surga, sebaliknya barangsiapa yang menjadikan makmumnya maka akan mendorongnya ke jurang api neraka.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

"Dengan demikian, Al-Qur’an merupakan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berfungsi sebagai pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam merancang bangun peradaban manusia untuk menggapai kebahagiaan baik di dunia, terlebih lagi di akhirat," jelasnya.

Ia mengatakan, sejarah telah membuktikan bahwa Al-Qur’an dahulu pernah melakukan perubahan-perubahan fundamental terhadap
peradaban manusia yang tiada taranya.

"Al-Qur’an mula-mula menjumpai bangsa Arab sebagai penyembah berhala, pemuja batu, dan pemuji kayu. Namun dalam jangka waktu kurang dari seperempat abad, penyembahan
kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah subhanahu wa ta’ala menguasai seluruh jazirah Arabia, setelah penyembah-penyembah berhala disapu bersih dari seluruh Jazirah Arabia. Al-Qur’an menyapu bersih segala kepercayaan tahayul dan menggantinya dengan agama yang paling rasional," katanya.

Pada masa itu tambah khatib, Bangsa Arab sering membanggakan dirinya karena kebodohannya, berubah menjadi bangsa yang cinta ilmu pengetahuan, mereka disulap dengan tongkat wasiat Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat sumber ilmu pengetahuan.

Hal demikian adalah akibat langsung dari ajaran Al-Qur’an. Di samping itu Al-Qur’an juga membangun manusia dari tingkat yang paling rendah ke tingkat peradaban paling tinggi, hanya dalam jangka waktu relative singkat.

"Oleh karena itu, dalam rangka menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup kita menuju peradaban manusia yang Qur’ani, mari kita baca Al-Qur’an, kita pahami isinya, kita renungkan maksudnya dan kita amalkan ajarannya. Sehingga dengan cara ini kita
mampu hidup bahagia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun Negara dan bangsa. Dan Allah pun akan menganugerahkan keberkahan kepada kita semua penduduk bangsa ini," katanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 96, yang artinya : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf : 96).

"Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang berfungsi sebagai pelajaran, obat, petunjuk dan rahmat dalam merancang bangun peradaban manusia untuk menggapai kebahagiaan baik di dunia, terlebih lagi di akhirat," katanya.

"Untuk itu kewajiban kita, saya, saudara dan seluruh kita bangsa Indonesia melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh Al-Qur’an agar peradaban manusia di negara Indonesia dapat berjaya kembali di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, Amin Ya
Rabbal ‘Alamin," ujarnya.