• Gubernur Nova Siap Terima Peluang Investasi Perusahaan asal Abu Dhabi
  • Pemerintah Aceh Sambut Nelayan Asal Sabang yang Kecelakaan Pelayaran di Thailand
  • Setelah Tertunda, Jenazah Mahasiswi Asal Nagan Raya Sampai Di Jakarta
  • BPPA Pulangkan Jenazah Pemuda asal Lhokseumawe yang Meninggal di Jakarta
  • Meninggal di Kairo, BPPA Pulangkan Mahasiswi Aceh Asal Nagan Raya

Nikmat Allah Yang Tidak Terhitung

Ustad Supriyanto Gayo, foto bersama Kepala BPPA Almuniza Kamal, SSTP, MSi serta DKM Mess Kutaraja, usai shalat Jumat, di Mess Aceh Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Januari 2022.

Jakarta - Nikmat merupakan bagian dari ihsan atau kebaikan. Dan kebaikan Allah SWT itu mencakup kepada orang yang taat maupun durhaka, orang mukmin dan orang kafir. 

"Namun untuk kebaikan yang bersifat mutlak maka ia hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan," kata Ustad Supriyanto Gayo, dalam khutbahnya, di Mess Aceh Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Januari 2022.

khatib menyampaikan, peringatan agar bersyukur terhadap nikmat dan menjelaskan tentang pentingnya syukur karena ia merupakan sebab terbesar berkelanjutannya nikmat tersebut.

"Celaan terhadap manusia yang kufur nikmat dan tidak bersyukur. Dorongan agar bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya yang tak terhingga jumlahnya," katanya.

Ia menyebutkan, nikmat Allah yang sering dilalaikan yaitu ada sejumlah kecil nikmat yang sering kali terabaikan oleh umat manusia bahkan oleh kaum muslimin sendiri. Akibatnya, sikap syukur terhadap nikat-nikmat tersebut kurang memadai atau bahkan malah sampai pada taraf tidak bersyukur sama sekali.

"Pertama, nikmat ibadah. Apa pun bentuknya, merupakan nikmat yang agung dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman. Namun banyak orang tidak menyadarinya," kata khatib.

Ketika seorang Muslim mendapatkan rezeki berupa berhasil menjual barang dagangannya dengan omzet miliaran rupiah per tahunnya, atau berhasil meraih jabatan strategis di perusahaan atau pemerintahan, dia merasa itulah nikmat dan karunia yang besar dari Allah.

"Namun ketika seorang Muslim bisa hadir ke masjid saat adzan shubuh berkumandang, lalu melaksanakan shalat sunnah sebelum shalat shalat wajib shubuh dan dilanjutkan dengan melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah, dia tidak merasa itu sebuah nikmat yang besar dari Allah SWT," katanya.

Akibatnya, tambah khatib, ketika tidak bisa bangun pagi untuk shalat shubuh berjamaah di masjid dan tidak menunaikan shalat sunnah sebelum shalat shubuh, dia tidak merasa kehilangan nikmat yang sangat besar, karunia yang sangat agung, yang lebih besar dari dunia ini berikut segala kandungan yang ada di dalamnya.

Dalam sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Rasulullah bersabda "Dua raka’at fajar (shalat sunnah sebelum shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya." (Hadits riwayat Muslim no. 725).

Sedangkan keutamaan shalat shubuh berjamaah lebih besar lagi. Dari ‘Umaroh bin Ruaibah, Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar)." (Hadits riwayat Muslim no. 634).

"Orang yang memperhatikan shalat shubuh saat orang nyenyak tidur, dan shalat ashar saat orang sibuk bekerja, tentu akan lebih menjaga shalat-shalat yang lain," sebut khatib.

Selanjutnya tambah khatib, untuk kedua, Nikmat Hidayah, yang merupakan nikmat yang sangat agung, namun banyak orang tidak menyadarinya. Nilainya sangat mahal karena menyangkut urusan surga dan neraka.

"Paman Nabi Muhammad SAW sendiri yaitu Abu Lahab dan Abu Thalib, tidak mendapatkan hidayah, padahal langsung bertemu dengan Nabi SAW, karena lebih mengutamakan keyakinan yang dianut nenek moyangnya daripada Islam," katanya.

Padahal Islam dibawa oleh keponakan mereka sendiri yang dikenal tidak pernah berdusta walau cuma sekali seumur hidup. Akibatnya, mereka menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Walaupun siksa yang diterima Abu Thalib adalah yang paling ringan yang dialami penghuni neraka dari kalangan orang-orang kafir karena syafaat Nabi Muhammad SAW.

"Kemudian yang tiga nikmat waktu luang. Lalu, keempat nikmat kesehatan," katanya.

Waktu luang dan kesehatan kata Khatib, sebenarnya merupakan dua nikmat yang besar bagi anak manusia. Namun sayangnya, banyak manusia yang lalai dengan nikmat ini sehingga tidak berhasil bersyukur atas nikmat tersebut.

Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu terlena dengannya sebagaimana sabda Rasulullah bersabda, "Dua nikmat yang kebanyakan manusia terlena di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (Hadits riwayat Al-Bukhari (6412) dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu).

"Dua nikmat agung tersebut tidak diketahui banyak orang nilainya kecuali setelah sirnanya 

kedua nikmat tersebut. Kebanyakan orang gagal memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya," sebutnya.

Namun katanya, sebagian besar justru digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat sama sekali, baik untuk dunia maupun akhirat. Sebagian yang lain malah nekat memanfaatkanya untuk hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

"Dan yang kelima, nikmat rasa aman, yang sering dilalaikan oleh kebanyakan orang sebagai sebuah nikmat yang agung adalah nikmat keamanan.Seseorang hanya akan sadar betapa bernilainya nikmat keamanan dan ketentraman hidup kecuali setelah sirnanya nikmat ini. 

Firman Allah SWT, "Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok. Mengapa (setelah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah? (QS: Al-Ankabut: 67)

"Pada ayat ini Allah SWT menyebutkan bahwa keamanan merupakan salah satu nikmat dari Allah. Namun sebagian manusia kurang menyadari atas nikmat ini," ujarnya.