• Gubernur Nova Siap Terima Peluang Investasi Perusahaan asal Abu Dhabi
  • Pemerintah Aceh Sambut Nelayan Asal Sabang yang Kecelakaan Pelayaran di Thailand
  • Setelah Tertunda, Jenazah Mahasiswi Asal Nagan Raya Sampai Di Jakarta
  • BPPA Pulangkan Jenazah Pemuda asal Lhokseumawe yang Meninggal di Jakarta
  • Meninggal di Kairo, BPPA Pulangkan Mahasiswi Aceh Asal Nagan Raya

Siap Bentuk BRIDA, Gubernur Nova Dapat Apresiasi

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah saat melakukan foto bersama sejumlah Gubernur di Indonesia pada acara Kick Off BRIDA dan talkshow di Auditorium Lantai 3 Gedung B.J. Habibie, Jakarta Pusat, Rabu, 20 April 2022. (Foto: Humas BPPA)

PRESS RILIS

 

 

Jakarta - Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT mendapatkan apresiasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI, karena tengah membangun pembentukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) di Provinsinya, guna mendukung riset dan inovasi di Indonesia.

Apresiasi itu yang diperoleh bersama dengan sejumlah Gubernur dari Provinsi lain di Indonesia, saat menghadiri acara Kick Off BRIDA dan talkshow yang digelar di Auditorium Lantai 3 Gedung B.J. Habibie, Jakarta Pusat, Rabu, 20 April 2022.

Dalam acara pembentukan BRIDA ini, juga ada penandatanganan Nota Kesepahaman antara Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dan Kepala BRIN Dr Laksana Tri Handoko MSc, tentang 'Sinergitas Penyelenggaraan Fungsi Riset dan Inovasi di Bidang Pemerintahan Dalam Negeri'.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, pembentukan BRIDA merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tentang BRIN. Hal itu menguatkan riset dan inovasi di seluruh wilayah di tanah air Indonesia.

"Karena diyakini riset dan inovasi menjadi kunci untuk mencegah Indonesia terjebak dalam fenomena middle income trap, dan benar bisa mencapai Indonesia maju tahun 2045 seperti yang kita harapkan," katanya.

Ia menjelaskan, middle income trap terjadi akibat ketidakmampuan bangsa ini dalam nilai tambah yang signifikan dari berbagai sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang sudah dimiliki.

"Jadi intinya kita bagaimana tidak berhenti menjual kencur mentah atau bubuk, tapi bisa membuat kencur menjadi obat, yang kita jual obat yang berasal dari kencur. Dan itu nilai tambah yang besar diperoleh kalau kita memiliki kemampuan riset dan inovasi yang sangat kuat," jelasnya.

Untuk itu diharapkan, BRIDA diberbagai daerah bisa berperan sebagai hap kolaborasi. Sehingga menjadi pengungkit untuk semua pihak, tidak hanya di pusat tapi juga di daerah guna memperkuat riset dan memanfaatkan inovasi hasil risetnya.

"Karena riset tidak semata hanya menjadi domain dari para akademisi, tetapi juga menjadi hal aktivitas yang bisa dilakukan oleh setiap lapisan insan masyarakat," sebutnya.

Laksana menambahkan, penandatangan MoU pada hari itu, akan menjadi momentum yang penting bagi semua, untuk menciptakan sinergi antara Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah bersama BRIN, guna mendukung kelembagaan BRIDA kedepannya.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan, selaku perpanjang tangan pemerintah, Kemendagri melakukan kerjasama dengan BRIN untuk mendukung agar BRIDA ini bisa terbentuk di semua daerah dan bisa berjalan.

"Kita siapkan aturan-aturan yang ada, termasuk kebijakan anggarannya. Kita akan membentuk tim yang memfollow-upnya atau tim lapangan. Sambil nanti kita akan melihat satu-satu masing daerah mana yang lebih dahulu," kata Tito.

Maka Tito berharap, semua daerah berlomba-lomba untuk secepatnya membentuk BRIDA ini. Sehingga betul-betul membuat basis kebijakan oleh pimpinan kepala daerah masing-masing.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pentingnya riset tidak hanya pada aspek-aspek ilmu pengetahuan murni, tetapi juga yang sifatnya partikel atau terapan.

"Saya rasa dibentuknya BRIDA, untuk mensupport bagaimana daerah-daerah siap untuk menata dirinya melakukan transformasi dalam rangka menyongsong 2045 ini," katanya.

Muhadjir menyebutkan, tidak mungkin pemerintah pusat ataupun BRIN mengurusi semua urusan tanpa keterlibatan dan tanpa kesadaran penuh dari daerah, baik itu pimpinannya maupun masyarakatnya.

"Karena pada dasarnya keberhasilan itu akumulasi atau agregat dari keberhasilan daerah.Begitu juga riset ini, karena BRIN tidak akan bisa menjangkau seluruh daerah," sebutnya.