Nyak Sandang Akhirnya Naik “Pesawat Dakota” Seulawah RI-001

Salah satu pelaku sejarah masa-masa awal kemerdekaan RI yang berasal dari Aceh, Nyak Sandang (91 tahun) akhirnya berkesempatan naik “pesawat dakota” Seulawah RI-001. Kesempatan itu diperolehnya saat berkunjung ke Anjungan Aceh Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) Jakarta, tempat keberadaan replika pesawat dakota Seulawah RI-001.

Nyak Sandang adalah salah seorang yang ikut menyumbangkan harta kekayaannya untuk membeli pesawat pertama Indonesia. Peristiwa ini bermula dari kunjungan Presiden Sukarno ke Aceh pada tahun 1948. Saat itu Presiden Soekarno bermaksud menggalang dana untuk pembelian pesawat pertama setelah Indonesia merdeka.

Nyak Sandang ketika itu baru berusia 23 tahun. Bersama orang tuanya, dia menjual sepetak tanah dan 10 gram emas. Hartanya yang dihargai Rp100 bersama sumbangan masyarakat Aceh lainnya diserahkan kepada negara untuk membeli pesawat pertama Indonesia.

Presiden Sukarno menerima sumbangan dari masyarakat Aceh sebanyak SGD120 ribu dan 20 kg emas murni untuk membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002. Dua pesawat tersebut merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways.

Pada hari Kamis (5/4) siang, Nyak Sandang dan empat orang pendampingnya berkunjung ke Anjungan Aceh TMII. Mereka yang mendampingi adalah Maturidi (anak bungsu Nyak Sandang), Khaidar (pendamping), Fatur (supir) dan Dewi (perawat rumah sakit yang menangani operasi matanya).

Rombongan tiba di Anjungan Aceh pukul 13 24 WIB dan langsung menuju lokasi replika pesawat dakota Seulawah RI-001. Pada badan pesawat yang tertulis sumbangan rakyat Atjeh itu, Nyak Sandang berfoto dan terllihat sangat bahagia, bisa naik pesawat bersejarah. Walau di dalam pesawat hawanya panas Nyak Sandang senang-senang saja.

Turun dari “pesawat” Seulawah RI-001, Nyak Sandang berbincang dengan para pegawai Anjungan Aceh TMII yang menyapanya dengan “Ayah”. Nyak Sandang pun mengundang semua pegawai Anjungan Aceh TMII untuk makan durian segar langsung dari pohonnya di kebun kampung halamannya di Lamno, Kabupaten Aceh.

“Ayah senang bisa berkunjung ke Anjungan Aceh dan berfoto bersama,” bisiknya saat menyampaikan kesan-pesannya.

Suasana seketika menjadi hening. Pertemuan dilanjutkan dengan pemberian sekadar oleh-oleh berupa baju kaos TMII dan sehelai mukena untuk keluarga di kampung. Segenap pegawai Anjungan Aceh pun mendoakan agar Sang “Ayah” selalu diberkahi umurnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial